Pileg Berbagi Sembako, Covid19 Rakyat Bergelut Derita

Hits: 6

Oleh : Novri Investigasi

Tak ada sahabat dan persaudaraan yang sejati. Yang ada hanya kepentingan sejati. Disaat kepentingan dimainkan, seakan peduli sahabat dan saudara. Ketika kepentingan tercapai, tak ingat sahabat dan saudara. Nikmatnya, singgasana dan empuknya kursi, membuat mereka ‘mati hati’, tak lagi peduli

Itu hanya gambaran, prilaku segelintir oknum anggota dewan, baik pusat, provinsi maupun daerah sekarang ini. Saat Pemilihan Legislatif, sembako, politik uang dimainkan untuk mencapai keinginan. Turun kelapangan, berbagai pencitraan dilakukan demi meraih tujuan.

Tukang ojek jadi sahabat membagikan jaket, bernama dan bergambar wajah. Tukang parkir didekati, berbagi kaos oblong untuk sosialiasi. One one tukang lontong, lotek ditemui untuk pasang baliho dan kalender. Masyarakat miskin jadi sasaran berbagi sembako didalamnya berkartu nama

Saat Covid19 melanda dan merusak segalanya, rakyat pun berbalut derita. Ketakutan menyebarnya virus corona, tukang ojek, tukang parkir, one one pun dirumahkan. Sekarang apa yang terjadi, suara mereka yang dibutuhkan dulu, merintih sedih tanpa bisa mengais reseki. Beban hidup, makan sehari hari, kontrakan, kredit dan biaya lainnya juga ‘mati suri’ tanpa bisa berbuat apa apa lagi.

Sementara, mereka yang duduk di kursi empuk karena suara rakyat, bergelimang kemewahan. Gaji besar, uang reses, porkir, kendaraan dan fasilitas lainnya, menemani mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Mewakili suara rakyat yang kelaparan dan terbelit hutang karena virus corona.

Apakah, mereka yang menikmati kursi empuk itu, masih peduli dengan
masyarakat yang telah mengangkat derjatnya. Masih adakah sembako, untuk masyarakat penyambung hidup ditengah badai Covid19. Atau berbagi masker, pengganti baju kaos saat kampanye. Entah

Sebuah Pantun Untuk Tuan

Ka ladang batanam tomat.
Tomat dijual di Pasa Bandarbuat.
Kalau bukan karena rakyat.
Tak mungkin tuan jadi orang terhormat.

Dari Ulak Karang hendak ke Siteba.
Singgah sabanta di Aia Tawa.
Sekarang tuan bergelimang harta.
Rakyat masih bergelimang sengsara.

Pantai Purus Indah mempesona.
Indah dipandang di sore hari.
Virus corona bikin rakyat menderita.
Masihkah tuan punya hati nurani.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *