PAGANG GADAI SAWAH, SUDAH ISLAMIKAH?

Hits: 117

Oleh :Safrudin Nawazir Jambak

ketua FPKS DPRD Agam

Tulisan ringkas ini mencoba menjelaskan tentang praktek pagang gadai sawah yang terjadi dan diwarisi oleh masyarakat secara turun temurun tetapi sangat banyak bertentangan dengan ajaran Islam.

Semua kita tentulah sepakat bahwa adat/tradisi haruslah sesuai dengan Islam sebagaimana falsafah adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Syara’ mangato adat mamakai, maka tradisi pagang gadai yang terjadi selama ini yang tidak cocok/sesuai dengan ajaran Islam mestilah diperbaiki dan diluruskan.

Siapapun tentu tidak ingin menabung dosa dari praktek pagang gadai yang dilakukan karna terdapat unsur riba. Semua kita pastilah ingin bersih-bersih dalam transaksi muamalah terutama dalam hal maksud menolong yang tak boleh terselip niat “menggolong”.

Uraian ini penulis “ekstrak”(baca : ringkas) dari berbagai penelitian ilmiyah akademik dari sumber jurnal baik berupa skripsi, tesis bahkan disertasi doktor terkait praktek pagang gadai sawah dan beberapa referensi serta mempedomani fatwa DEWAN SYARI’AH NASIONAL Majlis Ulama Indonesia
Nomor 25/DSN-MUI/III/20Tentang
Rahn/gadai.

Kita akan meninjau praktek yang terjadi, lalu bagaimana pedoman Islam dalam pagang gadai serta rekomendasi yang seharusnya dilakukan berangkat dari kondisi yang ada.

Menggadai tujuanya adalah untuk mendapatkan pinjaman/utang lalu menjadikan sesuatu barang katakanlah dalam hal ini sawah sebagai jaminan, di Minang kabau syarat menggadai sawah pusaka adalah karna rumah gadang katirisan atau mayat terbujur ditengah rumah atau anak gadis yang belum menikah.

Tujuanya tentu ingin meminjam uang (rupiah) untuk mengantisipasi kesulitan hidup dan dimasa sekarang bisa saja menggadai karna kebutuhan uang kuliah anak, biaya berobat ataupun mungkin ada juga orang menggadai untuk keperluan sekunder lainya.

Kalau seseorang menggadai sawah katakanlah sepiring sawah dengan luas atau banyak padi sekian lalu meminjam rupiah emas kepada seseorang dengan jumlah tertentu praktek yang lazim ditengah masyarakat maka sawah tersebut diserahkan dan digarap oleh yang menerima gadai bahkan kadang jangka waktupun tidak ditentukan sehingga ada yang sudah puluhan tahun menguasai dan menggarap serta mengambil hasil sawah gadaian tersebut.

Sawah tersebut baru dikembalikan pada saat orang yang menggadaikan mampu membayar utang kepada si penerima gadai jika tidak sanggup membayar hutang maka selamanya sawah tersebut dikuasai dan digarap oleh si penerima gadai, maka pertanyaanya bolehkah praktek seperti ini dalam Islam?, jawabanya praktek seperti ini jelas banyak bertentangan dengan ajaran Islam dan mengandung unsur riba, kenapa demikian? Mari kita simak pedoman Islam secara ringkas berikut.

Dalam Islam gadai dibolehkan disebut dengan istilah “Rahn” Secara bahasa rahn berarti ‘tetap dan lestari’, dinamai juga al-habsu, artinya ‘penahanan’. Sedangkan pengertian gadai secara istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus (Ismail Nawawi/fiqih muamallah klasik dan kontemporer)

Seharusnya menurut ketentuan Islam pagang gadai dilakukan dengan prinsip tolong menolong, si pemberi gadai (rahim) membutuhkan pinjaman baik berupa uang/rupiah emas (marhun bih) dan menjadikan sawah (marhun) sebagai jaminan kepada si penerima gadai (murtahin).
Menurut ketentuan yang kita teliti dari beebagai pendapat ulama mazhab dan fatwa MUI bahwa tidak boleh memanfaatkan dan mengambil hasil garapan sawah yang dijadikan jaminan oleh si penerima gadai, hasil garapan sawah yang dijadikan jaminan oleh si penerima gadai, sebaiknya hanya memegang surat gadai tanpa menguasai dan menggarap sawah gadai tersebut karna jika dikuasai bahkan diambil hasil garapan sawah tersebut para ulama sepakat menyatakan hal demikian termasuk riba.

Sebaiknya pagang gadai dinyatakan dengan sebuah akad yang jelas dan memuat lama pinjaman dan jika tidak mampu mengembalikan diperpanjang masa tempo atau disepakati sawah tersebut dilelang dan hasil lelang tersebut dibayarkan untuk melunasi hutang dan kelebihan uangnya jika ada dikembalikan kepada si penggadai yang memiliki sawah tersebut.

Ada juga ulama berpendapat meski tidak semua sepakat bahwa jika ingin si penerima gadai ingin menggarap sawah maka bekerja sama dalam menggarap sawah jaminan tersebut dengan dilakukan aqad muzara’ah ataupun aqad mukhabarah.

Menurut Zia Ulhaq dalam skripsi nya (UM surakarta) Muzara’ah ialah dimana nantinya tanah yang digadaikan oleh rahin kepada murtahin selanjutnya untuk digarap oleh murtahin dengan modal pembiayaan dari rahin dengan menggunakan skema bagi hasil antara kedua belah pihak yang melakukan akad.

Oleh sebab itu, jika kita telah terlanjur melakukan praktek pagang gadai yang bertentangan dengan ajaran Islam marilah dikembalikan, apalagi telah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun sawah gadaian dikuasai dan digarap maka sebaiknya dipulangkan kepada si pemilik meski mereka tidak sanggup mengembalikan pinjaman utang karna hasil sawah yang dikuasai barangkali telah sepadan dengan jumlah hutang yang mereka pinjam, atau dibuat akad baru yang sesuai dengan prinsip Islam tanpa merugikan pihak manapun.
Waallahu a’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *