Nasrul Abit Sebut Penghulu Punya Peran dan Tanggungjawab Besar

Hits: 13

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyebutkan, kalau seorang penghulu di Minangkabau, selain harus berbudi luhur dan mempunyai tingkah laku yang baik dan tutur kata yang sopan, sehingga dapat menjadi panutan dan dambaan bagi anak kemenakan, juga memiliki peran dan tanggungjawab besar dalam menghadapi ancaman degradasi moral yang saat ini sudah mulai mengancam generasi muda yang tak lain adalah anak dan kemenakan.

Penghulu dalam masyarakat adat Minangkabau adalah, pemimpin kaumnya dan pemuka adat dalam Nagari. Jabatan Penghulu di Minangkabau merupakan jabatan turun-temurun yang diwariskan dari niniak turun ke mamak dan dari mamak turun kepada kemenekan yang segaris ketururan berdasarkan garis keturunan di pihak ibu.

Nasrul Abit menilai, saat ini moral generasi muda Sumbar mengalami degradasi moral yang disebabkan oleh, rendahnya pemahaman agama dan adat. Pergaulan bebas, LGBT, Narkoba, pengaruh negatif kemajuan teknolgi, pengaruh budaya barat, dan kurangnya pengawasan orangtua dan peran niniak mamak. Maka dari itu, peran dari Penghulu yang juga harus memegang prinsip manimbang samo barek, mambagi samo banyak, lamak dek awak katuju dek urang, sangat dibutuhkan untuk membentengi generasi muda dari pengaruh-pengaruh negatif saat ini.

“Degradasi moral yang terjadi, merupakan keperihatinan kita yang sangat mendalam. Karena, tulang punggung suatu Nagari rapuh termakan oleh hancurnya moral. Padahal, Dipundak merekalah masa depan dipertaruhkan. Jika generasi mudanya hancur, maka hancurlah suatu Nagari. Sudah saatnya generasi muda Minangkabau kita arahkan pada yang baik dengan menempatakan peran fungsi generasi muda mambuek tapian menjadi elok, membuat visi nagari menjadi aman dan damai”, kata Nasrul Abit, Jumat 27 Desember 2019.

Lebih lanjut Nasrul Abit, meski demikian, juga harus dipahami bahwa perkembangan dan tantangan degradasi moral generasi muda harusnya tidak hanya menjadi beban panghulu saja. Namun, juga sudah menjadi tugas kita bersama. Saling bersinergi antara Pemerintah, penghulu, alim ulama, cadiak pandai dan bundo kanduang dengan memegang teguh filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam menjalankan peran masing-masing untuk menghadapi dan mencarikan solusi setiap persoalan yang ada.

“Meski penghulu selaku penanggungjawab kaum dilingkungan anak kemenakannya, menentukan kewenangan dalam menjatuhkan sanksi sosial terhadap anak kemenakan dan kaum yang di pimpinnya bila melanggar, sebagai sesuatu yang tidak bisa dibela, namun untuk mengatasi persoalan degradasi moral adalah tanggung jawab kita bersama. Seorang penghulu, sangat dihargai di Minangkabau,”ujarnya.

Menurut Nasrul Abit, seorang penghulu memiliki beberapa persyaratan khusus berupa sifat-sifat baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam ajaran adat Minangkabau, seorang penguhulu harus memiliki Empat sifat utama yang merujuk kepada sifat kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW, yang disebut dengan Sifat panghulu nan ampek yaitu Siddiq (Benar), Amanah (dipercaya) Tablig (menyampaikan), Fathonah (bijak dan cerdas) karena pangulu merupakan panutan oleh anak kemenakan, makanya seorang penghulu dalam berfikir, berbuat, dan bertingkah laku harus benar.

“Penghulu juga tidak boleh, memiliki sifat bohong dan dusta, karena kepadanya diserahkan segala persoalan hidup anak kemenakan, baik lahir maupun batin,”tutup Nasrul Abit. Rel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *