Mulyadi – Gusmal Sosok yang Tepat Memimpin Sumbar

Hits: 48

Oleh : Novri Investigasi

Pemilihan Gubernur (Sumbar) diprediksi hanya akan diramaikan 4 Calon Gubernur (Cagub). Satu Cagub bakal bertarung dari jalur indenpenden. Semua Cagub sudah mengantongi Cawagub (Cawagub) yang akan mendampingi pertarungan Pigub direncanakan Oktober 2020.

Mahyeldi diprediksi akan mengandeng Audy Joinaldi, Nasrul Abit merapat ke Indra Catri, Fakhrizal sudah memantapkan langkah bersama Genius. Lalu, siapa pasangan yang pas untuk Mulyadi.

Jujur, penulis lebih memilih Mulyadi dengan Gusmal, Bupati Kabupaten Solok. Duet politisi dan birokrasi diyakini, bakal bisa mengalahkan pasangan lain. Mulyadi dikenal politikus bersih dan handal. Gusmal birokrasi ulung meniti karier dari bawah.

Memang, penulis tak begitu mengenal Mulyadi. Jangankan bersalaman, bertatap mukapun tak pernah. Tapi, penulis tetap mengamati gerak langkah Mulyadi yang dikenal politikus bersih, jujur dan mendapat tempat dihati masyarakat. Terbukti, Mulyadi meraih suara terbanyak pada Pileg 2019 lalu.

Bukti lain, Mulyadi kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, 13 Maret 1963, sudah tiga priode terpilih menjadi anggota DPR-RI. Priode 2009-2014, 2014-2019, dan 2019-2024. Tingginya kepercayaan pemilih kepada Mulyadi, karena ia telah banyak berbuat, mengabdi untuk masyarakat dan bersih dari rayuan jabatan.

Penulis merasa kagum dengan kinerjanya. Ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Mulyadi terkait kasus korupsi pengadaan KTP elektronik (e-KTP), sekaitan jabatannya sebagai anggota Komisi V DPR RI dalam kasus pengadaan e-KTP, ia malah lepas dari jeratan korupsi.

Padahal, sejumlah petinggi DPR dinyatakan terlibat dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Salah satunya Setya Novanto. Sementara Mulyadi hanya menjadi saksi untuk tersangka Irvanto Hendra Pambudi (keponakan Setya Novanto) dan Made Oka Masagung.

Untuk pembangunan infrastruktur di Sumbar, lakek tangan Mulyadi tak diragukan lagi. Salah satu sumbangsihnya terbesar, pembangunan Kelok 9. Ular beton menghubungi Sumbar dan Riau itu, sekarang menjadi ikon daerah ini. Dan, masih banyak lagi pembangunan infrastruktur yang membuat Mulyadi dicintai masyarakat Sumbar

Khusus untuk Gusmal, penulis sudah kenal sejak tahun 1990 an. Saat itu Gusmal menjabat sebagai Kepala PMD (Pemberdayaan Masyarakat Sumbar). Penulis terpilih sebagai lima terbaik seleksi Pendamping Inpres Desa Tertinggal dan mendapat kesempatan menjalani pendidikan di Pusdikzi Bogor dan IPB (Institut Pertanian Bogor) ditempatkan di Desa Dilam, Bukit Sundi.

Sebagai Kepala PMD penulis sangat dekat dengan Gusmal, terutama membahas program pendamping Inpres Desa Tertinggal yang menjadi program unggulan zaman Orde Baru. Bahkan, kedekatan berlanjut saat Gusmal menjadi bupati, termasuk pada priode kedua.

Sebagai orang yang tergabung dalam timses Gusmal, penulispun pernah dikadukan Syamsu Rahim ke Kapolda Sumbar dan Dewan Pers atas tuduhan pencemaran nama baik, pemberitaan ajaran sesat. Saat Gusmal dijebloskan ke penjara atas tuduhan salah disposisi masalah tanah, penulis tetap setia mendampinginya.

Kenal sejak tahun 1990 an, Gusmal merupakan sosok birokrasi yang mumpuni. Mantan Ketua LKAAM Solok ini, enak diajak bicara dan dekat dengan berbagai kalangan. Titian kariernya dari bawah sampai menjadi Sekda, membuktikan ia sosok birokrasi yang handal. Karier birokrasinya itu, menghantarkan Gusmal menjadi Bupati Solok dua priode.

Dari rekam jejak Mulyadi dan Gusmal itu, penulis meyakini jika pasangan ini disatukan, Sumbar akan semakin maju. Kepiawaian Mulyadi merauap dana pusat dan handalnya Gusmal menangani birokrasi, membuat Sumbar makin disegani dan pembangunan infrastruktur berkembang pesat. Semoga

Penulis Wartawan Utama
Pimpinan Umum Koran Mingguan dan Online Investigasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *