Menyorot Proyek CV. Kubang Perdana

Hits: 60

Ada indikasi kecurangan dan penyimpangan spesifikasi teknis pekerjaan optimalisasi jalan Balai Kota – Batas Kota Selayo. Padahal, proyek yang dikerjakan CV. Kubang Perdana tersebut berdekatan dengan kantor balaikota, namun rekanan
masih nekat memainkan volume pekerjaan. Kurangnya pengawasan juga menjadi penyebab pekerjaan terindikasi melabrak speck

PADANG, INVESTIGASI_Seperti tahunnya, krumuk pekerjaan proyek kembali terjadi di Dinas PUPR Kota Solok. Kali ini, indikasi permainan terjadi pada kegiatan peningkatan dan pemeliharaan, Pekerjaan optimalisasi jalan Balai Kota – Batas Kota Selayo yang dikerjakan CV Kubang Perdana.

Pasalnya, proyek bernomor kontrak 600/036/SP/DPUPR-BM/2019, tanggal 27 September 2019, nilai kontrak Rp. 2.304.021.627. Sumber dana APBD, berlokasi di Kota Solok terkesan asal asalan dan hitungan hari sudah ambruk.

Telusuran media ini, kelokasi pekerjaan, Kamis (16/10) lalu ditemukan dugaan penyimpangan pekerjaan. Wajar saja, proyek bernilai miliyaran tersebut menuai tanggapan beragam berbagai kalangan, termasuk kalangan LSM. Sebab, pekerjaan ditengah keramaian itu masih kurangnya pengawasan.

Temuan media ini, ada beberapa item pekerjaan yang terindikasi dimainkan. Seperti kurang galian untuk koporan. Atau kurang lebarnya tapak bawah. Terlihat dibeberapa titik, tapak dan lining (puncak) sama lebarnya.

Modusnya, tapak atau bagian tengah pasangan batu, hanya mengikuti struktur tanah, tanpa dilakukan penggalian atau memotong dinding tanah. Terlihat pasangan batu mengikuti struktur, sehingga lebar tapak dan pasangan batu tengah diragukan.

Dugaan penyimpangan lain, pasangan batu dikerjakan dalam kondisi berair, melebihi 10 cm, meski sudah digali dan aliran air ditutup, tapi genangan air masih ada saat pekerjaan pasangan batu. Apalagi, debit air sangat tinggi. Material batu yang digunakan sebagian dari hasil galian dalam kondisi berselimut tanah.

Diprediksi batu berselimut tanah tersebut tak dicuci dan langsung dipasang menggunakan adukan. Alhasil, semen tak melekat dan pasangan berwarna hitam, sebab warna tanah lebih dominan pada pasangan batu.

Begitu juga adukan semen tak sesuai takaran. Terbukti batu mudah lepas seakan tanpa perekat. Parahnya, dibeberapa lokasi sudah ada yang ambruk, akibat kurangnya adukan semen. Begitu juga, Sistim Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja (SMK 3)terkesan diabaikan.

Faktanya, material batu, pasir bertumpukan di jalan, tanpa rambu atau policeine. Padahal, lokasi pekerjaan ditengah keramaian dan berdekatan dengan kantor walikota. Tumpukan material tanpa rambu tersebut rentan kecelakaan, terutama malam hari.

“Melihat pekerjaan tersebut, kuat indikasi pengurangan voume pada pekerjaan tersebut. Penyebabnya, meski berada dipusat kota, pekerjaan asal asalan itu, disebabkan kurangnya pengawasan,” kata Darwin, Direktur LSM ACIA kepada media ini beberapa hari lalu.

Laki laki, pegiat korupsi yang telah banyak melaporkan beberapa kasus dugaan penyimpangan pekerjaan baik menggunakan dana APBD maupun APBN, Sabtu (19/10), juga mengatakan, ia telah mengumpulkan data dan poto pendukung pekerjaan. Ini akan menjadi data pelengkap untuk Kadis PUPR dan aparat penegak hukum.” Kita akan kadukan, jika muncul masalah dikemudian hari ” pintanya

Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Solok, saat dikonfirmasikan via WA dan teleponnya, Jumat (18/10) mengaku, berterima kasih atas atensinya media ini terhadap kegiatan yang dii kelola Dinas PUPR. Ini, sebagai bentuk pengawasan dari masyarakat.

“Namanya kegiatan yang dilaksanakan mitra kami, para rekanan tentu belum sempurna, dan masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan disana sini. Tentunya, dengan bantuan pengawasan dari teman teman pers akan mengingatkan kami agar bekerja lebih baik lagi dalam mengelola kegiatan, khususnya kegiatan fisik,” kata Afrizal yang akrab dipanggil Can.

Ia juga mengatakan, dapat disampaikan, pelaksanaan pemasangan batu tidak pada saat bandar berair, tapi cukup kering. Sebab, disaat tukang bekerja air dari hulu ditutup sementara, sedangkan malamnya atas permintaan petani air kita alirkan lagi. Apalagi, saat ini sedang musim tanam. Bahkan, rekanan harus bekerja sampai malam untuk memastikan air sampai kesawah bagian hilir,” katanya seraya menyebutkan, dokumentasi foto disampaikan, ketika pekerjaan sedang dihentikan.

Ia juga menyampaikan, pekerjaan juga sudah sesuai arahan PPK agar titik pelaksanaan pekerjaan tidak terlalu panjang. Sebab, tukang merangkai pembesian, sehingga air di alirkan ke hilir dengan penuh. Sementara,
sisa galian sebagian sudah di keluarkan agar air dapat mengalir dengan lancar.” Terima kasih atas koreksi dan sarannya dan menjadi perhatian kami semua,” katanya.

Sementara, untuk ukuran tapak kolomnya cukup besar di bandingkan ukuran lining. Sehingga terkesan pemutusan pasangan batu kali tidak beraturan

“Kalau ada pasangan yang berlubang dan terputus itu di sengaja, sebab akan di pasang kolom beton bertulang,” ulasnya, seraya mengatakan, kalau yang ambruk tidak ada. Hanya lepas dari pasangan.

Penyebabnya, kata Afrizal, banyak masyarakat menginjak pasangan yang baru dipasang ketika mereka mengalirkan air di malam hari. Tudingan ambruk disebabkan adukan tak sesuai takaran, tak bisa saya menanggapi, sebab lebih teknis.

“Mohon menunggu atau konfirmasi dengan pengawas dan PPTK. Sedangkan untuk rambu rambu sudah sering di buat dan di ganti, karena hancur di tabrak, disenggol mobil. Dan, dsarankan untuk dibuat lebih tahan lama lagi,” tukuknya. Nv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *