Dipenghujung 2019, Mahyeldi Dipuji, Mahyeldi Dikritisi

Hits: 51

Oleh Novri Investigasi

Seiring akan berakhirnya 2019 dan memasuki babak baru 2020, kepemimpinan Mahyeldi Walikota Padang, menuai beragam pandangan. Ada yang memuji, banyak juga yang mencaci. Pujian semakin deras, cacian semakin keras, seiring majunya Mahyeldi pada Pemilihan Gubernur 2020 nanti.

Saya menilai objektif, melihat rekap jejak Mahyeldi memimpin Kota Padang tahun 2019 yang akan berlalu. Disisi keberhasilan membangun infrastruktur Kota Padang, pantas dipuji. Sisi gelap Kota Padang, seiring maraknya kafe maksiat wajar dikritisi.

Diakui, wajah perkotaan tahun 2019, mancilak dengan infrastruktur trotoar yang menjadi andalannya. Kawasan Khatib Sulaiman dengan kucuran dana Rp12 M untuk trotoar, indah dipandang mata. Itupun baru sebagian, apalagi seluruh kawasan Khatib Sulaiman dihiasi trotoar dan aksesoris lainnya, akan mempercantlik kawasan tersebut.

Lokasi lain yang dibangun trotoar dilengkapi aksesoris lampu dan bangku, Sawahan, Veteran, Ulak Karang, Gunung Pengilun, Simpang Haru, Terandam, Gurun Laweh (Kampung Nias), kawasan perumahan elit di SMA 1, Seberang Padang dan lokasi lainnya, menyulap kawasan tersebut sejuk dipandang mata, nyaman melintasinya.

Pantai Padang, bak gadis bersolek menggairahkan pengunjung mendatanginya. Trotoar sepanjang Pantai Padang, Rumah Panggung dibelakangnya bertuliskan Pantai Puruih, diserbu penghunjung berselfi ria.

Ditambah lagi, kucuran dana dari Dirjen SDA melalui BWSS merubah Danau Cimpago menjadi taman wisata keluarga. Dan, proyek krib pantai memecah ombak, membuat penghunjung nyaman bermain ombak.

Namun, dibalik cerita sukses trotoar, tercium bau tak sedap. Soalnya, terendus pekerjaan trotoar dominasi satu rekanan dengan memakai bendera yang berbeda. Bahkan, 60 persen dana trotoar mencapai puluhan miliyar dikuasai rekanan tersebut.

Cerita miring lain, menyertai proyek trotoar, Pemko Padang terkesan diskriminasi dan fokus membangun kawasan perkotaan, mengenyampingkan pembangunan daerah pinggiran. Disebut sebut juga, proyek trotoar pencitraan buya menuju pertarungan Pilgub 2020.

Karena, kawasan perkotaan perlintasan bagi warga kota dan kabupaten lain di Sumbar, juga bagi perantau. Saat memasuki Kota Padang, pujian mengalir terhadap Pemko Padang yang dianggap sukses membangun daerah ini.

Tak kunjung usai, proyek trotoar hanya untuk pencitraan. Ada yang menyebut, proyek trotoar sekelas Kabid dan ada juga yang bernada keras mengatakan, proyek trotoar, ibarat menggali kolam 1 meter, tapi bagaikan berenang di kolam 2 meter. Trotoar hanya got, bukan sungai. Pekerjaan kecil yang dibesar besarkan.

Terbakarnya Tagline senilai Rp6,3 miliyar juga mendiskreditkan Buya. Karena dianggap proyek mubazir, tak bermanfaatkan dan sekarang uang senilai Rp6,3 miliyar itu hangus dibakar api. Bukan membela Buya, terbakarnya Tagline bencana alam dan kerugian tak mencapai Rp1 miliyar.

Besarnya dana Tagline disebabkan pekerjaan diatas bukit dan cosnya 5 kali lipat dari proyek biasa. Lagipula, konstruksi masih utuh dan biaya paling tinggi itu, konstruksi, sebab memancang kedalaman tiang dan membuat huruf sepanjang 100 meter. Sementara yang rusak, kabel dan aksesoris Padang Kota Tercinta, namun rangkanya masih utuh.

Kafe maksiat yang marak diseputaran Pondok, jadi senjata untuk meruntuhkan kinerja Mahyeldi. Slogan pai kalam, pulang kalam, bumerang baginya. Sebab, slogan itu tak berbanding dengan maraknya kafe maksiat.

Blusukan dan dakwah diberbagai daerah yang dilakukan Mahyeldi momen bagi lawan politiknya. Gajah didepan mata tak kelihatan, semut dibalik gunung kelihatan, menyertai serangan terhadap Buya. Memberi dakwah ke daerah lain, sementara kampung sendiri, terutama kawasan Pondok, masih bergelimang maksiat. Memakai istilah Mastilizal Aye, Kafe maksiat dan miras marak di kampung buya.

Semenjak Andre Rosiade menyidak kafe maksiat, persoalan ini menjadi booming dan viral. Selang tak berapa lama, pasukan Sat Pol PP langsung menyegel kafe tak berizin. Kenapa ini tak dilakukan dari dulu, sebelum ada aksi turun kelapangan Andre Rosiade. Tak perlu dijawab, diduga ada penyebab dan permainan dibalik maraknya kafe maksiat.

Terlepas dari semuanya itu, kita tak perlu memojokkan Mahyeldi. Sebagai walikota ia telah menunjukkan kinerja luar biasa. Meski, ada kekurangan, sebagai manusia apa yang terjadi semasa kepemimpinan Mahyeldi itu biasa. Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada kinerja tanpa cela.

Mahyeldi dipuji, Mahyeldi dikritisi, itu sudah biasa. Pertanda ada kepedulian kita kepada Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela. Namun, etika sebagai orang minang tetap dijaga. Semoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *