Aturan Jam Malam, Efektifkah?

Hits: 23

Oleh : Novri Investigasi

Pembatasan jam bagi pelajar sampai pukul 23.00 WIB, menjadi perbincangan panjang berbagai kalangan. Pro kontra menyertai revisi Perda Ketertiban Umum (Tribum) itu. Pertanyaanpun muncul, efektikah Perda ini mencegah tindakan-tindakan negatif pelajar atau remaja atau akan menimbulkan masalah baru?

Untuk membahasnya, kita perlu melihat dari berbagai sisi. Menelaahnya dalam berbagai pandangan. Dan, menyimpulkan mana yang lebih tinggi nilai positif dan negatifnya. Juga disikapi, setelah menjadi Perda bagaimana pelaksanaannya. Apa bentuk pengawasan dan sanksi yang dilakukan. Kita tak ingin, Perda tinggal cerita seperti Perda Tribum yang telah ada.

Contoh sederhana Perda Nomor Tahun 2012 tentang TDUP pada Bab VII larangan Pasal 73 ayat. Waktu tutup jam operasi untuk usaha karaoke, klub malam, diskotik paling lambat jam 02.00. Apakah ini berjalan? Jawabannya tidak, sebab rata rata mereka tutup jam 04.00. Artinya, Perda ini saja tak bisa berjalan dengan baik, kok direvisi lagi dengan batas jam malam bagi pelajar?

Tak bisa dipungkiri, tak berjalannya Perda, terutama pembatasan jam operasional kafe, pub dan diskotik menjadi lahan bagi oknum yang mencari keuntungan dibalik Perda. Apakah pembatasan jam malam bagi pelajar akan menjadi lahan baru bagi oknum tersebut. Ini perlu disikapi, sebab dilema akan terjadi dikemudian hari.

Memang, rencana pemberlakuan aturan jam malam terhadap pelajar atau remaja yang membatasi keluar malam sampai pukul 23.00, masih menunggu pengesahan dari badan musyawarah (Bamus) DPRD. Namun, sebelum disyahkan mungkin dipelajari lagi, positif dan negatifnya dan baik buruknya

Diakui revisi Perda Tribum didasari, pelaku begal banyak dari kalangan pelajar, termasuk pelaku tawuran. Tapi, tidakkah kita melihat sisi lain, seperti menggeliat ekonomi masyarakat di malam hari. Kuliner, lontong malam menjadi usaha bagi masyarakat Kota Padang hingga tutup sampai dini hari. Apakah Perda ini, tak menghalagi usaha mereka.

Perlu juga kita ingat, sebagian besar pelajar di Kota Padang, berasal dari luar daerah. Mereka kos dan jauh dari orang tua. Kadang malam hari mereka mencari makanan keluar setelah penat belajar. Kadang mereka belajar bersama dirumah teman dan pulang sampai larut malam. Apakah aktifitas mereka akan terbatasi dengan adanya jam malam ini.

Khusus bagi kami di kampung, kadang anak anak dimalam liburan mereka memanfaatkan waktu untuk berkumpul di warung atau dikeramaian. Mereka bersendau gurau, kadang menyalurkan hobbi bergitar sambil bernyanyi. Tak ada kenakalan, tak ada tawuran hanya menikmati malam panjang bersama teman. Kesibukan belajar tiap hari membuat mereka jarang berintegrasi.

Lalu, bagaimana pula, bila keperluan mendesak mereka harus keluar malam. Seperti orang tua, adik, kakak sakit, sementara Apotik dan Toko Obat hanya di Terandam buka 24 Jam. Bagaimana mahasisa kebidanan pulang praktek sampai malam dan memakai baju bebas pulang layaknya pelajar, termasuk juga. pekerja di Super Market pulang malam..

Pertanyaanpun muncul, apakah luasnya Kota Padang ini, terawasi oleh mereka yang terlibat dalam penegakkan Perda. Sedangkan kawasan Pondok tak terawasi, banyaknya wanita malam dan maraknya kafe maksiat. Apalagi mengawas pelajar keluar malam dipelosok kota. Sudahkah ini, terpikirkan sebelum Perda disyahkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *